Menuntut ilmu membutuhkan kesabaran dan motivasi yang tinggi. Penulis menemukan beberapa orang pemuda (tepatnya mahasiswa/i) yang berhenti kuliah dikarenakan tantangan-tantangan dan kesulitan yang dihadapi. Sang pemuda tidak sabar mengerjakan tugas yang banyak dari dosennya, ada pula yang berhenti karena uang jajan dan fasilitas yang disediakan orangtuanya dianggap minim. Ada yang berhenti karena merasa capek dan bosan kuliah (belajar). Fenomena seperti itu tak seharusnya terjadi jika pemuda ini punya semangat dan kemauan yang kuat sesuai aliran darah mudanya. Jika dia mempunyai pemahaman yang benar tentang pentingnya ilmu dan punya motivasi yang ikhlas dalam menuntut ilmu, maka pemuda itu akan mengatasi segala rintangan, mencari jalan keluar dari segala problem dan akan berusaha menikmati setiap suka duka dalam menununtut ilmu.
Kesulitan yang dihadapi penuntut ilmu hari ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan berbagai kesulitan yang dihadapi para penuntut ilmu zaman dahulu. Kalau hari ini mahasiswa biasa memakai sepeda motor ke kampus, atau naik oplet atau bus kota, maka kita membaca dalam sejarah para ulama dulu berjalan kaki berpuluh-puluh kilo meter, untuk pergi ke sebuah madarasah atau untuk menemui seorang syeikh. Tak jarang mereka kehabisan bekal di tengah jalan dan harus bekerja dulu untuk mendapatkan bekal perjalanan selanjutnya. Mereka tak putus asa dan menyerah. Para penuntut ilmu zaman dulu harus menulis sendiri buku yang akan dipelajarinya, namun mereka tetap semangat dan tak mengeluh. Apa yang terjadi pada kebanyakan penuntut ilmu hari ini? Mereka memiliki ilmu yang dangkal di tengah banyaknya buku rujukan, mudahnya akses pustaka dan banyaknya lembaga-lembaga pendidikan. Banyak mahasiswa (penuntut ilmu/calon ulama) yang malas membaca dan tak ada keseriusan dalam menguasai sebuah disiplin ilmu.
Penulis terkejut dengan banyak mahasiswa/i, yang mengikuti ujian komprehensif bahasa Arab, yang tidak bisa menterjemahkan surat Al-‘Ashri, ada pula yang tak bisa membedakan antara isim dan fi’il, antara fa’il dan maf’ul dan tak dapat menyebutkan bahasa Arab dari anggota badan dengan baik. Bayangkanlah sarjana agama yang seperti apa yang akan keluar, jika kemampuannya seperti ini. Tanpa ada niat untuk merendahkan, tapi kejadian seperti ini terjadi. Walaupun tentunya banyak juga saya menemui mahasiswa yang mempunyai kemampuan bahasa dan ilmu yang baik, dan semangat belajar yang tinggi, namun kejadian seperti tadi tetap membuat penulis terkejut dan sedih. Penulis berfikir, apa kiranya penyebab terjadinya kekurangan seperti itu? Penulis melihat ada beberapa penyebabnya, di antaranya ialah motivasi dan semangat belajar yang kurang, malas dan tidak tekun mempelajari sebuah ilmu. Kalaupun –umpamanya- ada yang mengikuti beberapa kali kursus bahasa Arab, tapi tak pernah sampai ke level bisa, tapi tetap menikmati level dasar dan level tak bisa. Saya menemukan contoh mahasiswa tamat STM mengambil jurusan Pengajaran Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah. Dengan kesungguhan dia belajar bahasa Arab dari level dasar sampai ke mahir. Berhasil menamatkan kuliahnya dengan baik dan sekarang sedang mengambil S2 jurusan sastra Arab di salah satu universitas di Mesir. Dia dapat menguasai disiplin ilmu bahasa Arab dan menamatkan kuliahnya dengan baik, berkat kesungguhan dan semangat yang tinggi.
Semangat untuk mengamalkan ilmu juga merupakan suatu pendorong yang kuat dalam penguasaan ilmu. Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ’anhu berkata: “Sesungguhnya yang disebut orang ‘alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya dan ilmunya sesuai dengan amalnya.” Abdullah bin Mas’ud mengatakan: “Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya perkataan, namun ilmu adalah banyaknya rasa takut kepada Allah Ta’ala. Ilmu yang benar adalah ilmu yang mendorong penuntut ilmunya untuk mengamalkan ilmunya dan dapat menambah rasa takutnya kepada Allah Ta’ala. Jika seorang yang berilmu, tetapi tidak mengamalkan ilmunya, maka dia tetap dianggap orang yang bodoh (jahil). Orang yang mengetahui bahwa perbuatan zina atau mendekati zina itu haram, namun tetap melakukan yang dilarang itu, maka dia digolongkan kepada orang yang bodoh, sekalipun dia seorang doktor, professor, ataupun ustazd. Nabi Yusuf berdoa agar diselamatkan dari godaan isteri penguasa Mesir yang mengajaknya berzina: “Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau tidak hindarkan daripadaku tipu daya mereka, tentu aku akan cendrung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33).
Mengenai hal ini Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).
Seorang penuntut imu harus memahami urgensi atau nilai pentingnya ilmu. Allah Ta’ala akan mengangkat derajat orang yang menuntut ilmu di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman-Nya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Mujadilah:11).
Menuntut ilmu merupakan jalan ke surga, seperti yang disebutkan dalam Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (H.R. Muslim).
Bagi penuntut ilmu juga dijanjikan Allah Ta’ala limpahan rahmat dan maghfirah dan akan didoakan oleh para malaikat dan makhluk Allah lainnya. Dalam sebuah Hadits disebutkan: “Barangsiapa yang bepergian dan mempelajari ilmu semata-mata karena Allah, maka Allah akan membukakan baginya pintu menuju surga dan para malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya kepadanya dan mengelilinginya dari segala penjuru. Sesungguhnya orang yang berilmu itu akan dimintakan ampun untuknya oleh semua makhluk di langit dan di bumi, bahkan oleh ikan-ikan di laut. Keutamaan orang yang berilmu jika dibandingkan dengan ahli ibadah seperti bulan purnama dibandingkan dengan bintang terkecil di langit. Para ulama adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan uang dinar ataupun dirham kepada mereka, akan tetapi para nabi itu mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambil ilmu tersebut, maka ia telah mengambil keberuntungan.” (HR. Abu Daud, Tirmizi dan Ibnu Majah).
Allah Ta’ala akan memberikan wajah yang cemerlang dan bercahaya kepada orang yang berilmu dan penuntut ilmu. Seperti yang digambarkan oleh Hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Allah akan mencemerlangkan wajah orang yang mendengarkan perkataanku dan ia memeliharanya, kemudian menyampaikannya sebagaimana ia dengar. Berapa banyak orang yang disampaikan ilmu kepadanya lebih memahami ilmu tersebut daripada orang yang mendengarnya secara lansung.” (HR. Abu Daud, Tirmizi).
Mu’az bin Jabal mengatakan: “Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena mengharap wajah Allah itu mencermin rasa khasyyah (takut kepada Allah), menuntut ilmu adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah jihad, mengajarkannya untuk keluarga adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping di saat sendirian dan teman karib di saat kesepian.”
Ibnu Qayyim menjelaskan kelebihan ilmu atas harta: “Ilmu adalah warisan nabi, sedangkan harta adalah warisan para raja dan orang kaya. Ilmu menjaga pemiliknya, sedangkan harta harus dijaga oleh pemiliknya. Ilmu bertambah jika diinfakkan dan diajarkan kepada orang lain, sedangkan harta akan hilang percuma jika dibelanjakan, kecuali sedekah. Harta kadangkala menjadi penyebab kebinasaan pemiliknya, berapa banyak orang kaya diculik karena hartanya. Sedangkan ilmu adalah kehidupan bagi pemiliknya meskipun sudah wafat.”
Yang tak kalah pentingnya yang harus diingat oleh penuntut ilmu adalah bahwa ilmu merupakan syarat utama diterimanya seluruh amalan seorang hamba. Orang yang beramal tanpa ilmu akan tertolak seluruh amalannya. Untuk itu, marilah kita menjadi penuntut ilmu yang sungguh dan semangat, mencintai ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan kita. Selamat belajar dan sukses dunia dan akhirat.
*Penulis adalah Naib Syeikh 1 Bidang Akademik Ma’had Al-Jami’ah, dan dosen Fakultas Syari’ah dan Ilmu Hukum UIN Suska Riau. Sekarang sedang menyelesaikan program doktoral di Universitas Maulay Ismail-Meknes-Maroko